Follower
Minggu, 12 Februari 2017
Fulan: "Dalam Mimpi Kiyai Munif Zubairi Memberi Saya Amalan Seperti Amalannya Nabi Yunus".
Seseorang pernah bercerita kepada penulis, sebut saja namanya Fulan; "Saya pernah bisnis tembakau namun bangkrut hingga mengalami kerugian 60 juta, seakan ini masalah terbesar dalam hidup saya hingga suatu malam saya bermimpi bertemu kiyai Munif, dalam mimpi beliau memberi sebuah amalan sebagai jalan keluar", tutur Fulan sembari menyulut rokok kretek dan ditemani kopi tubruk kesukaannya.
Lanjut, penulis bertanya,: "Kalau boleh tahu amalan apa itu Pak Fulan?", wajah penasaran mewarnai raut wajah penulis.
Dengan santai pak Fulan menyahut,: "Ijazah amalan yang diberi kiyai Munif seperti amalannya Nabi Yunus AS.
لا إله الاّ أنت سبحانك إنى كنت من الظالمين،
Dengan kehendak Allah tidak lama kemudian masalah hidup saya terselesaikan".
Setelah insiden itu menurut cerita pak Fulan, ia langsung sowan serta meminta petunjuk kepada Kiyai Munif (Pengasuh ponpes Nasy'atul Muta'allimin ke III). Apa tanggapan kiyai Munif tentang mimpi si Fulan?, Putera kiyai Zubairi ini berdawuh: "oh enggi, Pajhat bànnyak sè akadhi ka'dintoh", (Mdr) "oh iya, memang sering kejadian seperti itu".
Salam ta'dzim penulis kepada guru kami Drs. K.A. Munif Zubairi
Semoga kiyai Munif beserta keluarganya sehat wal'afiyat dan dipanjangkan usianya oleh Allah. Amiin
Semoga bermanfaat
Oleh itakitafuzu.blogspot.com
Sabtu, 11 Februari 2017
Keistimewaan, Serta Wasiat K. Mattasan Gapura, :"Kalau Saya Meninggal Tolong Kirimkan Saya Fatihah".
Murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) pertama Nasy'atul Muta'allimin Gapura Sumenep Madura terdiri dari enam orang, K. Mawi, K. Shaleh (Baban), K. Zaitun, K. Basyir, K. Masyhur, dan termasuk di antaranya K. Mattasan.
K. Mattasan muda mondok di pondok pesantren Al-Huda Pangabasèn Gapura Timur asuhan KH. Hosamuddin (kiyai Hesa), mondok sembari nyolok (nyantri kalong) ke NasyMut, K. Mattasan termasuk orang yang paham betul sejarah pasca berdirinya Nasy'atul Muta'allimin, sebab K. Mattasan pernah bertutur begini, : "Pada saat saya menghaturkan minuman kepada para kiyai, tidak sengaja nguping musyawarah soal perintisan pondok pesantren Nasy'atul Muta'allimin, kala itu saya berada di bawah kolong surau (langgar) anyaman bambu (sangger)", tuturnya sembari memijat punggung penulis, beliau hidup dalam kesedarhaan dan berprofesi sebagai tukang pijat.
Dawuh K. Mattasan yang penulis masih ingat begini, "Saya sering menyiapkan barang kiriman untuk kiyai Zubairi waktu mondok di ponpes Annuqayah".
K. Mattasan merupakan santri sing baik serta taat kepada gurunya dan istiqamah dalam berjamaah shalat lima waktu. Suatu ketika K. Mattasan kedatangan Kiyai Hesa, kebetulan waktu itu ia punya seekor ayam kesayangan, kiyai Hesa merasa tertarik pada ayam itu, "ini ayamnya saya bawa yaaa", kata kiyai Hesa. K. Mattasan mengiyakannya dengan penuh rasa ikhlas.
K. Mattasan pernah bercerita pengalamannya begini: "Kalau saya sedang lapar dengan membaca al-Qur'an akan terasa kenyang". ia mengalami rabun dekat (mata katarak), maklum kala itu usianya telah di 80 tahun. Karena rabun setiap kali hendak membaca al-Qur'an ia harus memakai kacamata. Keanehan terjadi saat rihlah ziarah (ngalap barokah) ke salah satu makam waliyullah, dengan hasratnya untuk mengkhatamkan al-Qur'an, sehabis berwudhu' tiba-tiba dengan izin Allah mata K. Mattasan kembali terang seperti sedia kala dan tidak perlu memakai kacamata lagi.
Setelah wafatnya Kiyai Hesa, K. Mattasan rutin ziarah ke maqbarohnya, setiap kali ziarah ke maqbaroh sang guru, ia terasa seolah berada dalam Masjid berdua bersama kiyai Hesa.
Sebelum k. Mattasan meninggal, beliau sempat menitip pesan kepada penulis, "Kalau saya meninggal, tolong kirimkan saya Fatihah". Tidak berselang lama beliau meninggal, tepat pada waktu yang istimewa yaitu malam Jum'at. Subhanallah
Semoga bermanfaat.
K. Mattasan muda mondok di pondok pesantren Al-Huda Pangabasèn Gapura Timur asuhan KH. Hosamuddin (kiyai Hesa), mondok sembari nyolok (nyantri kalong) ke NasyMut, K. Mattasan termasuk orang yang paham betul sejarah pasca berdirinya Nasy'atul Muta'allimin, sebab K. Mattasan pernah bertutur begini, : "Pada saat saya menghaturkan minuman kepada para kiyai, tidak sengaja nguping musyawarah soal perintisan pondok pesantren Nasy'atul Muta'allimin, kala itu saya berada di bawah kolong surau (langgar) anyaman bambu (sangger)", tuturnya sembari memijat punggung penulis, beliau hidup dalam kesedarhaan dan berprofesi sebagai tukang pijat.
Dawuh K. Mattasan yang penulis masih ingat begini, "Saya sering menyiapkan barang kiriman untuk kiyai Zubairi waktu mondok di ponpes Annuqayah".
K. Mattasan merupakan santri sing baik serta taat kepada gurunya dan istiqamah dalam berjamaah shalat lima waktu. Suatu ketika K. Mattasan kedatangan Kiyai Hesa, kebetulan waktu itu ia punya seekor ayam kesayangan, kiyai Hesa merasa tertarik pada ayam itu, "ini ayamnya saya bawa yaaa", kata kiyai Hesa. K. Mattasan mengiyakannya dengan penuh rasa ikhlas.
K. Mattasan pernah bercerita pengalamannya begini: "Kalau saya sedang lapar dengan membaca al-Qur'an akan terasa kenyang". ia mengalami rabun dekat (mata katarak), maklum kala itu usianya telah di 80 tahun. Karena rabun setiap kali hendak membaca al-Qur'an ia harus memakai kacamata. Keanehan terjadi saat rihlah ziarah (ngalap barokah) ke salah satu makam waliyullah, dengan hasratnya untuk mengkhatamkan al-Qur'an, sehabis berwudhu' tiba-tiba dengan izin Allah mata K. Mattasan kembali terang seperti sedia kala dan tidak perlu memakai kacamata lagi.
Setelah wafatnya Kiyai Hesa, K. Mattasan rutin ziarah ke maqbarohnya, setiap kali ziarah ke maqbaroh sang guru, ia terasa seolah berada dalam Masjid berdua bersama kiyai Hesa.
Sebelum k. Mattasan meninggal, beliau sempat menitip pesan kepada penulis, "Kalau saya meninggal, tolong kirimkan saya Fatihah". Tidak berselang lama beliau meninggal, tepat pada waktu yang istimewa yaitu malam Jum'at. Subhanallah
Semoga bermanfaat.
Jumat, 10 Februari 2017
KISAH TITIP SALAMNYA KANJENG NABI MUHAMMAD SAW KEPADA KYAI KHOZIN BUDURAN-SIDOARJO
Salah seorang waliyulloh yang terkenal keramat, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan-Madura, suatu kali menunaikan ibadah haji. Beberapa saat ketika beliau singgah di Madinah hendak berziaroh kemakam Rosululloh di Ar-Roudhoh, beliau berjumpa dengan Nabi SAW. Ketika itu beliau terlihat mesra sekali bercengkrama dengan Nabi, hingga sebelum berpisah, Nabi mengatakan kepada Syaikhona Kholil Bangkalan bahwasannya kalau Syaikhona kembali ketanah air supaya menyampaikan salamnya Nabi kepada Khozin dari Buduran-Sidoarjo.
Begitulah, selepas kapal yang ditumpangi Kyai Kholil sandar di pelabuhan Kota Surabaya ( sekarang Tanjung Perak ), beliau tidak langsung menuju Bangkalan-Madura, akan tetapi langsung menuju Buduran-Sidoarjo mencari orang yang bernama Khozin sebagaimana yang disarankan Nabi SAW kepadanya. Begitu sampai di Buduran, beliau menanyai beberapa orang yang dijumpainya, menanyakan rumah Khozin. Setiap jawaban yang beliau peroleh berfariasi, mulai Khozin tukang cukur rambut, tukang sepatu sampai profesi yang disebutkan, dan semuanya tidak cocok dengan sosok yang beliau bayangkan. Hingga suatu saat kemudian dipagi hari beliau bertemu dengan bapak tua berpakaian kaos oblong, dengan memakai sarung yang agak dicincingnya sedang menyapu halaman sebuah rumah yang mirip sebuah pesantren dengan beberapa gothaan ( bilik-bilik bambu para santri ), Kyai Kholil lalu menghampiri bapak tersebut yang tengah sibuk dengan aktifitasnya tersebut. Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh bapak tersebut, beliau bertanya ;
" Pak, dimanakah rumah Khozin ?"
" Kalau nama Khozin, banyak disini ". Jawab orang tersebut.
" Tapi kalau Kyai hendak mencari Khozin yang dimaksud Rosululloh sewaktu sampean di Madinah, ya saya ini Khozin yang beliau maksud ". Lanjut bapak tersebut.
Syaikhona Kholil tersentak kaget setelah mendengar jawaban spontan tersebut. Serta merta beliau menjatuhkan koper perbekalan yang dibawanya dan mencium tangan bapak tersebut berulang kali.
Ya, itulah Kyai Khozin Khoiruddin pengasuh pondok Siwalan Panji Buduran sekaligus perintis tradisi khotaman Tafsir Jalalain, yang diera Kyai Ya'kub Hamdani terkenal sebagai pondoknya para wali. Hadrotussyaikh Kyai Hasyim Asy'ari adalah alumni ponpes ini, dimana beliau sempat diambil menantu oleh Kyai Ya'qub dengan mempersunting puterinya yang bernama Khodijah, dari perkawinan beliau lahir seorang putra bernama Abdulloh. Tapi sayang keduanya ( Nyai Khodijah dan Abdulloh putranya ) wafat di Makkah pada tahun 1930, dipondok ini gothaan kyai Hasyim ketika masih nyantri sampai sekarang diabadikan, dan diantara alumni yang lain adalah seperti Mbah Hamid Abdulloh Pasuruan, Kyai As'ad Syamsul Arifin Situbondo, Mbah Ud Pagerwojo, Mbah Jaelani Tulangan ( konon menurut penuturan cucunya kepada saya, disuatu musim kemarau waktu itu banyak para petani yang kehausan karena sumur disawah maupun rumah kering kerontang, ditengah kehausan itu tiba-tiba mereka melihat Mbah Jaelani melayang-layang diudara sambil membawa timba-timba berisi air beserta pikulannya ), ada juga wali kendil ( kakak beradik yang meninggal ketika masih menjadi santri . Si adik ahli mutholaah kitab sedangkan si kakak ahli tirakat, hingga pada suatu hari kakaknya marah melihat adiknya menanak nasi karena tidak menghormati kakaknya yang sedang berpuasa. Ditendangnya kendil buat menanak nasi itu hingga pecah berantakan. Melihat itu si adik diam sambil mengambil serpihan-serpihan kendil yang pecah berantakan itu ditempelkannya lagi potongan serpihan itu dengan ludahnya hingga kembali utuh seperti sedia kala. Hingga ketika keduanya meninggal, makam adiknya tidak mau berjejer berdampingan dengan kakaknya, setiap hari makam adiknya bergeser maju bahkan konon sampai menembus pagar batas makam, dan pada akhirnya oleh Kyai Ya'kub makam santrinya itu diperingatkan agar cukup sampai disitu saja. Hingga sampai sekarang makam keduanya yang awalnya berjejer sudah tidak lagi seperti pertama kali dimakamkan, makam adiknya lebih maju kedepan melewati batas nisan kakaknya ),dan Kyai Kholil Bangkalan sendiri termasuk alumni Siwalan Panji.
Pondok Siwalan Panji ini berdiri sekitar tahun 1787 oleh Kyai Hamdani. Menurut Gus Rokhim ( alm ) pemangku pondok Khamdaniyah yang juga generasi ke tujuh dari Mbah Khamdani, ketika tanah siwalanpanji masih berupa tanah rawa, Mbah Hamdani meminta kepada Allah agar tanah rawah ini diangkat kepermukaan untuk dijadikan sebagai kawasan syiar Islam waktu itu.
“Ketika itu Mbah Hamdani meminta pertolongan kepada Allah, tidak berselang lama, tanah yang sebelumnya rawa, tiba-tiba terangkat dan menjadi daratan,”. Tidak hanya itu, pada awal awal pengerjaan pondok, kayu bangunan pondok yang didatangkan dari cepu melalui jalur laut tiba-tiba pecah dan terserak dan berpencar. Namun karena pertolongan Allah, kayu-kayu yang semula berpencar ini, bergerak sendiri melalui sungai menuju sungai di seberang kawasan pondok.
“Ada satu kayu yang tersangkut di kawasan Kediri, dan sekarang disebut menjadi kayu cagak Panji,” cerita Gus Rokhim.
Dijuluki pondoknya para wali karena setiap tahun alumni yang keluar bbeberapa diantaranya sudah mempunyai karomah-karomah luar biasa ketika masih menjadi santri.
Konon dari beberapa riwayat yang saya kumpulkan, dipondok Panji atau Siwalan Panji inilah kitab Tafsir Jalalain pertama kalinya dibaca secara klasikal pada tahun 1789 M. Sistem penddikin ala madrosah Diniyyah juga sudah ada pada waktu itu, hanya saja formatnya tidak seperti sekarang yang tersusun sistematis dan terencana.
Semenjak itu Syaikhona Kholil selalu mewanti wanti agar santri beliau yang boyong agar tabarrukan dulu di pondok Panji yang diasuh Kyai Khozin ketika itu, sebagai bentuk ketakdzhiman Syaikhona Kholil kepada Kyai Khozin.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sampai sekarang pondok Panji, terutama pondok Al Khozini banyak dipenuhi santri dari Madura, sebagai bentuk ketakdzhiman mereka pada dawuh Syaikhona Kholil Bangkalan.
Wallohu a'lamu bis showab
————————
Foto di atas ini adalah foto Mbah Ali Mas'ud Al Majdzub Pagerwojo ( salah satu diantara alumni pondok wali ( Siwalan Panji Buduran )
Kiyai Zubairi (alm): "Dulu Waktu Saya Mondok, Taqrieb Saja Tidak Khatam".
kiyai Afif Ma'ruf (K. Afifuddin, nama lahirnya), ia merupakan salah seorang santri senior yang mondok dhàlem di ponpes Nasy'atul Muta'allimin,
di Madura santri itu dapat memilih di mana ia hendak mondok, di pondok dhàlem (santri dhàlem lebih pasnya bisa dibilang khadimnya kiyai, mengurus keseharian kiyai), ataukah di pondok luar. Walaupun tidak serta merta pondok yang berada di pulau garam itu menerapkan sistem pemondokan yang sama, tentu ada perbedaan sistem serta ciri khas masing-masing.
Adapun kata santri menurut Nurkholis Madjid kata santri berasal dari kata ‘Cantrik’ (bahasa sansekerta atau jawa), yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sedang versi yang lainya menganggap kata ‘santri’ sebagai gabungan antara kata ‘saint’ (manusia baik) dan kata ‘tra’ (suka menolong). Sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.
Santri jika ditulis dengan bahasa arab سنتري (Santri) maka akan dapat didefinisikan sesuai dengan huruf-huruf yang tersusun. Maka akan terdiri dari 5 huruf, Sin, Nun, Ta’, Ra’ dan Ya. Huruf س (sin), yang artinya salikun ilal Akhirah, berarti selalu berjalan menuju akhirat, setiap gerak-gerik santri mengandung unsur ukhrawi dan duniawi. ن (Nun), Naibun lil Masayikh, santri harus bisa mengikuti dan dapat mengganti ulama yang penuh dengan ilmu, sebagai santri, harus bisa mengganti kiai yang sepuh untuk regenerasi. ت (Ta’) Tarkul Ma’ashi, bagaimana agar santri tidak melakukan maksiat. ر (Ra’) Raghibun lil Khairat, yaitu cinta pada kebaikan. Santri harus suka pada kebaikan, dan selalu melakukan kebaikan. Kemudian ada huruf ي (Ya'), Yarju lil Mardhotillah, sholat, mengaji, menjaga ukhuwah, saling toleran dan seluruh ibadah kita jangan disertai kedengkian, takabur, sombong dan ingin dipuji orang lain. Kita harus ingat bahwa yang dilakukan manusia dan khususnya santri hanya mencari ridho Allah SWT.
Kiyai Afif muda kerapkali diminta untuk mencukur rambut Kiyai Zubairi, pernah suatu ketika kiyai Zubairi berdawuh sembari rambutnya dicukur oleh kiyai Afif: "sèngko' bàkto mondhuk ta' hatam taqrèb bhàlàkkà' ", (Mdr). "Saya waktu mondok kitab taqrieb tidak khatam",. Kata-katanya singkat namun padat makna menjadi renungan berharga bagi kiyai Afif, kiyai Zubairi belum menamatkan kitab taqrieb (syarah fathul qarieb), padahal fathul qarieb bisa diibaratkan makanan pokok kaum santri. Namun kiyai Zubairi telah mampu menguraikan isi taqrieb dalam ruang-ruang kelas kepada santri-santrinya, sekaligus telah berhasil menjadi orang alim, alim secara wawasan maupun alim secara prilaku (عمل بعلمه).
Semoga bermanfaat
Oleh itakitafuzu.blogspot.com
Kritik serta sarta sangat saya harapkan terutama dari keluarga dhàlem.
Kamis, 09 Februari 2017
ASWAJA ITU BUKAN LIBERAL, BUKAN WAHHABI & BUKAN SYIAH
KH. Luthfi Bashori
Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, bahwa Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi (keyakinan), pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.
Pengertian di atas menunjukkan, bahwa liberalisme sebagai penganut kebebasan itu bukanlah berasal dari ajaran Islam, apa lagi lebih spesifik Ahlus Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA). Karena ajaran Aswaja itu bukan ajaran kebebasan, namun ajaran yang penuh dengan aturan.
Baik yang bersifat aturan gelobal seperti batasan-batasan yang terdapat dalam Kitab Suci Alquran maupun Hadits Nabawi, atau aturan yang lebih terinci, yaitu hasil ijtihad para ulama dalam menerjemahkan isi yang terkandung dalam Alquran dan Hadits, lantas dicetuskan dalam bentuk batasan ilmu Fiqih, ilmu Tasawwuf, ilmu falaq, ilmu Faraid, dan sebagainya.
Dari sini jelaslan, bahwa hanyalah sebuah kebohongan dan penipuan saja jika kaum Liberal mengaku-ngaku sebagai penganut Aswaja. Sekalipun banyak di antara penganut liberalisme yang sengaja mendompleng kepada ormas-ormas Islam yang berasas ASWAJA. Hal ini mereka lakukan dengan tujuan untuk melancarkan upaya liberalisasi ormas yang mereka masuki tersebut.
Sayangnya, banyak aktifis ormas Islam yang tidak sadar dan kurang peduli terhadap bahaya Liberalisme yang merusak eksistensi ormas Islam yang disusupinya, khususnya dalam bidang keselamatan aqidah para anggota ormas terkait.
Di sisi lain, ada pula pengikut aliran Wahhabi, yang kerap kali mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah, padahal mereka itu hakikatnya berpegang teguh kepada ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi (Saudi), sang Pencetus sekte Wahhabi yang tidak mengakui keimanan dan keislaman para ulama Salaf yang hidup sebelum jamannya.
Demikian juga kaum Wahhabi ini adalah pengagung Nashiruddin Al-Albani, tokoh Wahhabi yang baru lahir tahun 1914 M, namun sudah berani menolak dan menyalahkan Imam Bukhari, yang wafat tahun 870 M, bahkan tidak segan-segan meragukan keislaman dan keimanan Imam Bukhari.
Imam Bukhari adalah ulama ahli hadits paling handal di dunia, dan kitab karangannya, Shahih Bukhari, diakui oleh para ulama sebagai kitab yang paling shahih (benar) setelah Alquran. Beliau termasuk ulama yang memperbolahkan pentakwilan terhadap ayat mutasyabihat, maka dengan serampangan Al-albani mengatakan terhadap Imam Bukhari: Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang muslim yang beriman (Lihatlah kitab Fatawa Al-Albany, m/s 523).
Selain dua golongan sesat di atas, masih ada lagi golongan sesat yang sering memperdayai umat Islam ASWAJA khususnya kalangan awwam, untuk ditarik mengikuti pamam sesatnya, yaitu golongan Syiah pengikut Khomeini Iran.
Golongan ini sangat membenci para shahabat Nabi Muhammad dan para istri beliau SAW, serta mengingkari kemurnian Alquran sebagai Kitab Suci umat Islam. Pernyataan semacam demikian ini dapat dilihat pada kitab-kitab rujukan utama sekte Syiah seperti Alkaafi, Fashlul khithab fi tahrifi kitabi rabbil arbab, dan sebagainya.
(Makalah Diskusi Ringan di Pesantren Sarang Rembang, 9 Peb '17)
Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, bahwa Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi (keyakinan), pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.
Pengertian di atas menunjukkan, bahwa liberalisme sebagai penganut kebebasan itu bukanlah berasal dari ajaran Islam, apa lagi lebih spesifik Ahlus Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA). Karena ajaran Aswaja itu bukan ajaran kebebasan, namun ajaran yang penuh dengan aturan.
Baik yang bersifat aturan gelobal seperti batasan-batasan yang terdapat dalam Kitab Suci Alquran maupun Hadits Nabawi, atau aturan yang lebih terinci, yaitu hasil ijtihad para ulama dalam menerjemahkan isi yang terkandung dalam Alquran dan Hadits, lantas dicetuskan dalam bentuk batasan ilmu Fiqih, ilmu Tasawwuf, ilmu falaq, ilmu Faraid, dan sebagainya.
Dari sini jelaslan, bahwa hanyalah sebuah kebohongan dan penipuan saja jika kaum Liberal mengaku-ngaku sebagai penganut Aswaja. Sekalipun banyak di antara penganut liberalisme yang sengaja mendompleng kepada ormas-ormas Islam yang berasas ASWAJA. Hal ini mereka lakukan dengan tujuan untuk melancarkan upaya liberalisasi ormas yang mereka masuki tersebut.
Sayangnya, banyak aktifis ormas Islam yang tidak sadar dan kurang peduli terhadap bahaya Liberalisme yang merusak eksistensi ormas Islam yang disusupinya, khususnya dalam bidang keselamatan aqidah para anggota ormas terkait.
Di sisi lain, ada pula pengikut aliran Wahhabi, yang kerap kali mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah, padahal mereka itu hakikatnya berpegang teguh kepada ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi (Saudi), sang Pencetus sekte Wahhabi yang tidak mengakui keimanan dan keislaman para ulama Salaf yang hidup sebelum jamannya.
Demikian juga kaum Wahhabi ini adalah pengagung Nashiruddin Al-Albani, tokoh Wahhabi yang baru lahir tahun 1914 M, namun sudah berani menolak dan menyalahkan Imam Bukhari, yang wafat tahun 870 M, bahkan tidak segan-segan meragukan keislaman dan keimanan Imam Bukhari.
Imam Bukhari adalah ulama ahli hadits paling handal di dunia, dan kitab karangannya, Shahih Bukhari, diakui oleh para ulama sebagai kitab yang paling shahih (benar) setelah Alquran. Beliau termasuk ulama yang memperbolahkan pentakwilan terhadap ayat mutasyabihat, maka dengan serampangan Al-albani mengatakan terhadap Imam Bukhari: Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang muslim yang beriman (Lihatlah kitab Fatawa Al-Albany, m/s 523).
Selain dua golongan sesat di atas, masih ada lagi golongan sesat yang sering memperdayai umat Islam ASWAJA khususnya kalangan awwam, untuk ditarik mengikuti pamam sesatnya, yaitu golongan Syiah pengikut Khomeini Iran.
Golongan ini sangat membenci para shahabat Nabi Muhammad dan para istri beliau SAW, serta mengingkari kemurnian Alquran sebagai Kitab Suci umat Islam. Pernyataan semacam demikian ini dapat dilihat pada kitab-kitab rujukan utama sekte Syiah seperti Alkaafi, Fashlul khithab fi tahrifi kitabi rabbil arbab, dan sebagainya.
(Makalah Diskusi Ringan di Pesantren Sarang Rembang, 9 Peb '17)
Ketika Kiyai Afif Memuliakan Guru dan Orang Lain
Suatu hari kiyai Afif Ma'ruf bermujalasah dengan tamu tetangga sebelah (tamoy lala') atau tamu sing biasa bertandang sehari-hari, kiyai Ma'ruf tidak menyediakan sebatang rokokpun bagi si tamu karena dianggapnya orang dekat rumah dan memang waktu itu kiyai Afif kehabisan rokok. Tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya datanglah Kiyai Zubairi (guru kiyai Afif Ma'ruf), kiyai Ma'ruf merasa sungkan bila tidak menyuguhkan rokok kepada Kiyai Zubairi, bagitu juga merasa tidak enak bagi si tamu kalau kiyai Ma'ruf menyibukkan diri dengan membelikan rokok demi kiyai Zubairi dikira membeda-bedakan tamu.
Tidak lama kemudian kiyai Afif keluar sebentar dan memanggil santrinya: "cong, bà'na èrosoroa mellè rokok, sakèng dàgghi' sabellunna è atorraghi ka sèngko' bhundhu' dàri dhalubàng bàn kabàlà bàdà kèrèman dàri Gersèk Potè". (Mdr), "Cong, kamu mau saya suruh membeli rokok, tapi sebelum dikasih ke saya rakoknya dibungkus dulu dan bilang ini bingkisan dari Gersik putih", dawuh kiyai Afif kepada santrinya.
(Maksud kiyai Afif hanya untuk menghormati keduanya, agar tidak menyinggung perasaan tamu sebelum kiyai Zubairi tadi dan tetap memuliakan kiyai Zubairi sebagai gurunya).
Semoga bermanfaat
Oleh itakitafuzu.blogspot.com
Bila ada kesalahan tulisan mohon kritik dan saran dari teman-teman terutama keluarga dhalem. Trims
Tidak lama kemudian kiyai Afif keluar sebentar dan memanggil santrinya: "cong, bà'na èrosoroa mellè rokok, sakèng dàgghi' sabellunna è atorraghi ka sèngko' bhundhu' dàri dhalubàng bàn kabàlà bàdà kèrèman dàri Gersèk Potè". (Mdr), "Cong, kamu mau saya suruh membeli rokok, tapi sebelum dikasih ke saya rakoknya dibungkus dulu dan bilang ini bingkisan dari Gersik putih", dawuh kiyai Afif kepada santrinya.
(Maksud kiyai Afif hanya untuk menghormati keduanya, agar tidak menyinggung perasaan tamu sebelum kiyai Zubairi tadi dan tetap memuliakan kiyai Zubairi sebagai gurunya).
Semoga bermanfaat
Oleh itakitafuzu.blogspot.com
Bila ada kesalahan tulisan mohon kritik dan saran dari teman-teman terutama keluarga dhalem. Trims
Rabu, 08 Februari 2017
Ta'dzimnya K. Asmoni terhadap kiyai Asy'ari Marzid
Kata ta'dzim merupakan bentuk masdar dari fi'iel madhi adzdzoma (عظّم - تعظيما) mempunyai makna mengagungkan, absolut meng(agung)kan hakikatnya kepada Allah, dalam kitab arkan (kitab tatacara shalat , berbahasa jawa) memaknai الحمد لله "dhinèng sadhàjà pojhi panèka tep-tep èka'agungè gustè Allah, ponapa sè èkoca' pojhi?, ènggi panèka pangoca' pangalem sè asajjhà ngagungngàghi (mdr)", segala puji hanya milik Allah, apa yang disebut puji?, yaitu kata sanjungan yang bermaksud meng(agung)kan. Tatacara mengagungkan guru atau kiyai tentunya berbeda dengan mengagungkan Allah.
Kata Mengagungkan berasal dari kata agung, yang mana agung adalah sifat uluhiyyah (ketuhanan), Allah tanpa diagungkan nyatanya Allah tetap maha Agung "aku memohon ampun kepada Allah yang maha agung" ( أستغفر الله العظيم ).
Mengagungkan guru atau kiyai lebih kepada memuliakan / menghormati, seringkali kita dengar ucapan "sampaikan salam ta'dzim saya kepada kiayi Ma'ruf", sama saja dengan "sampaikan salam hormat saya kepada kiyai Ma'ruf".
Ada sebuah kisah tentang besarnya rasa ta'dzim seorang santrè kona kepada kiyainya. Alkisah, dahulu K. Asmoni muda pernah èkonpakon (disuruh) oleh kiyainya (KH. Asy'ari Marzid, pengasuh ponpes al-Marzuqi Battangan, Gapura) untuk mengantarkan sejumlah uang kepada kiyai Hosamuddin (Pangabasèn Gapura), "uang ini hantarkan kepada Kiyai Hosamuddin, jangan pulang sebelum uangnya sampai di tangan beliau !!", Dawuh kiyai Asy'ari kepada K. Asmoni muda. Sesampainya di ponpes al-Huda (kediaman kiyai Hosamuddin) k. Asmoni bertanya kepada salah seorang santrinya: "kiyai Hesa (sebutan lumrah kiyai Hosamuddin) ada ya?? santrinya menjawab: "kiyai Hesa masih di Kompolan (perkumpulan kajian kitab) di desa Kolpo". Padahal kala itu sudah larut malam, Kiyai Hesa memang rutin mengisi kajian-kajian keislaman siang hari maupun tengah malam ke pelosok desa terutama pelosok yang belum kental keagamaanya atau jauh dari pesantren.
Singkat cerita, K. Asmoni ketiduran karena kelelahan, hingga tiba waktu dikumandangkan adzan subuh oleh santri, "Allahu akbar Allahu akbar ....., Hayya 'alashsholaaaah.....,
K. Asmoni yang tadinya tidur pulas, tiba-tiba terperanjat kaget, suara adzan disangka teriakan santri sedang bergurau di Masjid, "eeeh jangan teriak-teriak di Masjid", dengan nada keras memarahi santri. Tidak lama kemudian dalam benak k. Asmoni tersadar bahwa sudah tiba waktu subuh.
Walau fajar telah menyingsing k. Asmoni belum juga dapat menemui Kiyai Hesa, rupanya kiyai Hesa belum kembali ke pesantren. Sampai terbit matahari kiyai Hesa belum juga pulang. K. Asmoni kembali menanyakannya pada santri dhàlem, ternyata kiyai Hesa baru saja pulang namun masih istirahat.
K. Asmoni masih menunggu kiyai Hesa, ia sebagai santri yang ta'dzim serta taat atas perintah gurunya, k. Asmoni tetap berpegang teguh pada dawuh KH. Asy'ari, "jangan pulang sebelum bertemu kiyai Hesa".
Sekitar jam 10.00 pagi k. Asmoni dapat bertemu Kiyai Hesa, tanpa bertutur panjang k. Asmoni langsung menyampaikan amanahnya: "uang ini dari kiyai Asy'ari", kiyai Hesa berdawuh: "oh iya, kamu sudah lama di sini?, "Enggi, saya sudah dari kemarin di sini menunggu kiyai" jawab k. Asmoni.
Setelah k. Asmoni menyelesaikan tugasnya, k. Asmoni langsung kembali ke pondok, setibanya di pondok kiyai Asy'ari menanyakan keterlambatannya pulang ke pesantren; "kenapa kamu sampai nginap di Pangabasèn??, "Saya menunggu kiyai Hesa sampai esok hari kiyai.
Subhanallah, bagaimana barokah tidak akan diberikan oleh Allah kepada seorang santri ketika ia begitu ta'dzim dan taatnya kepada sang guru, barokah / keberkahan dapat diperoleh dengan berkhidmah (mendedikasikan jiwa raga kapada masyarakat maupun gurunya)
"البركة بالخدمة"
Barokah bisa didapat dengan berkhidmah,
Lalu apa barokah itu? Sebagian ulama mengatakan bahwa "البركة زيادة الخير" Barokah merupakan tambahan nilai kebaikan. Kiyai Chairul Umam BA. Pernah berdhawuh bahwa "wajib hukumnya percaya akan adanya barokah, Bahkan murtad bila tidak percaya Barokah.
Kata barokah dalam tahiyyat
السلام عليك أيها النبي و رحمة الله وبركاته
Oleh: kotoran sandallà K. Asmuni Gapura.
Langganan:
Postingan (Atom)






